Sunday, 19 May, 2013

PILIH BAHASA

MAIN MENU

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday84
mod_vvisit_counterYesterday1579
mod_vvisit_counterThisWeek1663
mod_vvisit_counterLastWeek12094
mod_vvisit_counterThisMonth32322
mod_vvisit_counterLastMonth56408
mod_vvisit_counterAll days1945600

We have: 2 guests, 2 bots online
Your IP: 23.22.212.158
 , 
Today: May 20, 2013

You are here : Home ARTIKEL BANGUNAN Umum Prinsip Perencanaan Bangunan Bertingkat

Prinsip Perencanaan Bangunan Bertingkat Print
User Rating: / 3
PoorBest 
ARTIKEL BANGUNAN
Written by Administrator   
Thursday, 10 February 2011 20:48
 Kegiatan perencanaan adalah suatu kegiatan yang sangat pokok dan penting sebelum melaksanakan sebuah proyek. Terjadinya kesalahan pelaksanaan ataupun metode
kerja yang tidak berurutan akan memberikan kerugian pada proyek. Perencanaan yang tepat dan matang akan memudahkan dalam mencapai tujuan utama sebuah pekerjan konstruksi, yaitu tepat waktu, tepat mutu, serta tepat biaya. Perencanaan yang dilaksanakan dalam sebuah proyek harus memenuhi persyaratan seperti dibawah ini, antara lain:

a. Konstruksi harus kokoh dan memiliki nilai estetis yang baik.

b.   Mutu pekerjaan terjaga dengan baik.
c.   Biaya pelaksanaan harus efisien dan ekonomis.
d.   Waktu pelaksanaan tepat, sesuai dengan time schedule.
e.   Aman dan nyaman untuk digunakan.
f.   Mempertimbangkan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
g.   Berdasarkan aturan hukum yang berlaku.
(Pudjianto,1996)
Pada umumnya dalam perencanaan suatu pekerjaan proyek konstruksi, terdiri dari 3 macam perencanaan, meliputi :
a.         Perencanaan Arsitektur
b.        Perencanaan Struktur
c.         Perencanaan Mekanikal, Elektrikal, dan Plumbing.
Ketiga proses tersebut saling berkaitan dan harus ada koordinasi untuk menghasilkan suatu bangunan yang kuat, stabil, serta mempunyai view arsitektural yang baik, demi keamanan dan kenyamanan bangunan.
Fungsi bangunan ‘pada proyek tempat penulis kerja praktek’ adalah sebagai hunian yang tergolong sederhana dan terjangkau bagi masyarakat menengah kebawah (hunian bersubsidi). Termasuk dalam rumah susun sederhana hak milik (rusunami).
  • Tinjauan Perencanaan Arsitektur
Tahap yang pertama dari sebuah perencanaan bangunan adalah perencanaan arsitektural, yang didalamnya meliputi landscape bangunan, eksterior dan interiorruangan. Sesuai fungsi bangunan sebagai rusunami dengan kebutuhan akan unit hunian yang banyak, ‘proyek tempat penulis kerja praktek’ dirancang dengan bentuk bangunan menyerupai huruf U dengan corridor yang terletak memanjang diantara unit hunian (Gambar 1.1). Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan lahan yang ada. Untuk setiap unit huniannya dengan ukuran standar 5 x 5 m2, terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang duduk, 1 kamar mandi, dan 1 balkon. Setiap lantai hunian untuk 7 (tujuh) towermemiliki jumlah total 350 unit hunian. Landscape ‘proyek tempat penulis kerja praktek’dengan tema “One Stop Service”, dilengkapi pusat perbelanjaan terbuka, tropical tree, dan playground yang terintegrasi di keseluruhan tower.
Dari segi eksteriornya, konsep desain arsitekturnya bergaya modern minimalis, simpel, dan praktis, sehingga cocok sebagai hunian masa kini yang sering diminati. Untuk perencanaan interiornya, jenis material finishing yang digunakan bersifat sederhana. Pasar yang diincar adalah konsumen dengan potensi pasar menengah kebawah.
  • Tinjauan Perencanaan Struktur
Struktur adalah suatu kesatuan dan rangkaian beberapa elemen yang dirancang agar mampu menerima beban luar maupun berat sendiri tanpa mengalami perubahan bentuk yang melewati batas persyaratan
perencanaan gedung bertingkat
sistem struktur high rise building perencanaan bangunan bertingkat
Sistem Struktur High Rise Building
Pada dasarnya setiap sistem struktur pada suatu bangunan merupakan penggabungan berbagai elemen struktur secara tiga dimensi. Fungsi utama dari sistem struktur adalah untuk memikul secara aman dan efektif  beban yang bekerja pada bangunan, serta menyalurkannya ke tanah melalui pondasi. Beban yang bekerja pada bangunan terdiri dari beban vertikal, beban horisontal/beban lateral, getaran, dan sebagainya. Pada high rise building, jika pengaruh beban horisontal/beban lateral lebih besar dari kriteria kekakuan (stiffness) yang direncanakan, maka dapat menimbulkan deformasi ataupun defleksi lateral yang besar. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan atau keruntuhan struktur. Untuk memperkecil deformasi ataupun defleksi lateral tersebut, maka digunakan dinding geser (shear wall) agar struktur menjadi lebih kaku.
sumber:http://www.ilmusipil.com

 

Last Updated on Monday, 04 April 2011 18:14
 

Add comment

Pergunakanlah dengan komentar yang baik sehingga bermanfaat buat pengunjung lainnya.


Security code
Refresh