|
Meskipun kita sering mendengar tentang pondasi yang satu ini, yakni Pondasi Franki Pile. Tetapi untuk kota Pekanbaru, pemakaian jenis pondasi ini masih bisa dihitung dengan jari. Dengan demikian tentu masih banyak dikalangan praktisi teknik sipil yang masih belum begitu jelas tentang metode pelaksanaan pondasi Tiang Pancang Franki ini.
Meskipun Pondasi Tiang Franki ini dengan pondasi tiang pancang sama-sama dipancang sampai ketemu tanah keras. Bila pondasi Tiang Pancang beton atau pipa baja dipancang dan langsung menjadi pondasi tiang untuk mendukung beban yang bekerja, sedangkan pipa atau casing pada sistem Pondasi Tiang Frangki yang terpancang akan dicabut kembali pada saat pengecoran.
Perbedaan lain antara Pondasi Tiang Pancang dengan Pondasi Tiang Franki adalah tempat jatuhnya palu atau hammer pada saat pemancangan. Bila pada Pondasi Tiang Pancang, hammer langsung jatuh pada kepala tiang pancang, sedangkan pada Pondasi Tiang Franki yang dipancang adalah ujung tiang sebelah bawah yang terlebih dahulu telah diisi koral.
Dari Buku Referensi untuk Kontraktor Bangunan Gedung dan Sipil (2003:199-200), yang saya peroleh dari Ir. Yul Ari kepala cabang PT. Pembangunan Perumahan (PP). Anda akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang metode pelaksanaan pondasi pancang Franki, antara lain sebagai berikut ini.
Pipa baja dengan ujung bawah terbuka, diletakkan di atas tanah tepat pada titik (patok) tiang. Batu koral lalu dimasukkan ke dalam pipa yang kosong itu dengan menggunakan suatu alat yang dinamakan “Skip” setinggi kurang lebih 0,6-1,0 meter di dalam pipa. Koral dipadatkan dengan tumbukan palu/drop hammer di dalam pipa sehingga melekat menjadi suatu sumbat pada ujung pipa. Palu penumbuk (drop hammer) berbobot kurang lebih 3,2 ton.
Pemasangan pipa besi dilakukan dengan cara menumbuk sumbat koral pada ujung pipa sehingga mencapai kedalaman yang diinginkan. Kedalaman pemancangan ditentukan melalui data yang diperoleh dari penyelidikan tanah dan kelendering pada setiap titik. Pemancangan dihentikan apabila penurunan pipa tidak lebih dari 30 mm dalam sepuluh pukulan, dengan tinggi jatuh palu setinggi 1,20 per pukulan.
Setelah mencapai kedalaman yang diharapkan, pipa ditahan dengan sling dan sumbat koral yang terdapat di dalam pipa dipukul hingga lepas dan keluar dari pipa. Beton kering lalu diisikan sedikit demi sedikit ke dalam pipa untuk pembuatan pembesaran (bulb) atau enlarged base.
Volume beton yang digunakan dalam pembuatan bulb disesuaikan dengan kekerasan tanah dan pada umumnya adalah antara 0,14 m3 (satu skip) hingga 0,84 m3 (enam skip). Jumlah pukulan pada satu skip (0,14 m3) beton terakhir harus tidak kurang dari 40 kali dengan tinggi jatuh palu minimum 4,8 meter atau hingga energi yang sama tercapai.
Keranjang besi terdiri dari 6 besi utama diameter 22 mm yang dililit spiral diameter 8 mm jarak 20 cm untuk seluruh panjang tiang Franki. Keranjang besi tersebut lalu dimasukkan ke dalam pipa dan merupakan pembesian dari tiang pondasi. Keranjang besi dibuat sepanjang tiang sendiri dengan tambahan kurang lebih 0,90 meter stek untuk masuk ke dalam poer untuk penyambungan, maka over-lapping besi utama adalah lebih kurang 90 cm. Pada ujung keranjang besi dan pada sambungan dilas titik agar lebih kuat.
Tiang Franki lalu dibuat dengan mengecor beton sedikit demi sedikit kedalam pipa disertai dengan pemadatan sambil pipa sedikit demi sedikit dicabut. Beton yang digunakan dalam pengecoran adalah dengan mutu K-225 dan Faktor Air Semen tidak kurang dari 0,4 dan slump berkisar antara 0-2,5 cm. Pengecoran beton diakhiri dengan penambahan setinggi lebih kurang 30 cm-50 cm agar beton pada ketinggian yang diinginkan terjamin baik dan keras.
Susunan campuran beton yang berdasarkan volume untuk tiang Franki adalah 1: 2,25: 3,25 per meter kubik beton, dengan perincian Semen = 345,00 kg, Pasir = 0,62 m3, Split 2/3 = 0,90 m3, Air 134,00 liter. Tiang Franki dengan diameter 50 cm yang selesai dilaksanakan harus tahan memikul beban kerja sebesar 130 ton.
Semoga uraian singkat tentang Metode Pelaksanaan Pondasi Tiang Franki ini bisa bermanfaat buat kita yang berkecimpung di dunia Teknik Sipil. Apalagi contoh kasus yang diuraikan di atas telah meberikan gambaran yang lengkap dengan detail-detail dan dimensi serta daya dukung yang diperbolehkan. Pondasi Tiang Franki memang cukup mahal untuk diterapkan, akan tetapi pondasi jenis ini bisa menjadi lebih efisien bila dibutuhkan dalam jumlah yang relatif besar. ***
ronymedia.wordpress.com
|